PERAN GURU ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SEBAGAI ROLE MODEL DALAM MEMBENTUK ETIKA SISWA DI SMPN 1 TALUN CIREBON

 

Tikah Malahayati1, Etty Ratnawati2, Ratna Puspitasari3

IAIN Syekh Nurjati Cirebon1,2,3

[email protected]1. [email protected]2. [email protected]3.

 

 

ARTICLE INFO

ABSTRACT

Received:

27-02-2022

The focus of this study is the probelm of studens� ethics in communicating, which can be seen from the factors that support and inhibit social studies teachers in shaping students� communication ethics. This study uses a qualitative type of research using a descriptive approach which will be described in depth from the results of exploration during the study. The subjects of this study were social studies teachers for class VIII-i, school principals, and students of class VIII-i. The data collection techniques used for this research are observation, data reduction, data display and conclusion drawing. The results showed that the communication ethics of class VIII-i students at SMPN 1 Talun� Cirebon Regency was considered good, although it was not said to be optimal, but students were able to be flexsible with the conditions they faced. The role of the social studies teacher as a role model in shaping the ethics of class VIII-i students at SMPN 1 Talun Cirebon Regency has been carried out potimally as is the position of a teacher who carries out his rights and obligations as an educator, teaches, guides, gives moral messages and as a facilitator. This role has a positive impact on the teaching and learning process (KBM) and daily activity habits such as 5S (smile, greeting, greeting, politeness, courtesy). Factors that hinder students communication ethics are the detachment of supervision and influence from peers, geographical location and lack of cooperation between parents and teachers. The driving factors are language discipline in schools, encouragament and familiy factors that support children�s development to become better.

Accepted:

05-03-2022

Published:

20-03-2022

Keywords:

: Etiquette; Communication; teacher�s role.

Corresponding Author: Tikah Malahayati

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

INTRODUCTION

Pendidikan merupakan ujung tombak bangsa untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa � Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara (Nurfirdaus 2018: 113-129). Proses pendidikan baik formal maupun nonformal kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling penting untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Selain itu untuk mencapai tujuan pembelajaran, tidak hanya di tunjang dari kemampuan berpikir saja namun akhlak ataupun etika siswa dapat mencerminkan keberhasilan siswa atau pendidikannya. Untuk itu komunikasi merupakan bagian terpenting dalam menunjang proses belajar, karena dengan berkomunikasi siswa dapat bertanya terkait permasalahan akademik yang dihadapinya kepada guru, dengan komunikasi guru dapat mengetahui etika siswa dari cara berbicara nya ataupun dalam menyampaikan di setiap kalimat yang di utarakan nya (Oktaviyanti, Sutarto, & Atmaja, 2016).

Menurut Mulyasa (2003:40-41) menyatakan bahwa guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing (jurney) yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamnnya bertanggung jawab atas kelancaran peralanan itu. Sejalan dengan pendapat Surahman (2017:2) guru bukan hanya seseorang yang menciptakan orang yang kompeten dalam bidang tertentu, melainkan orang yang mampu berbaur dengan lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan norma yang berlaku. Guru juga merupakan seseorang yang bertanggung jawab dalam melahirkan orang-orang yang berkarakter kuat sebagai modal untuk membangun sebuah peradaban yang tinggi dan unggul sebab karakter bangsa yang kuat merupakan keberhasila dari suatu prodak yang di ciptakan dari pendidikan (Kirom, 2017). Ketika mayoritas masyarakat kuat, tinggi, positif dan unggul maka akan menciptakan sebuah keberhasilan. Dan apabila mayoritas masyarakat memiliki karakter yang lemah, rendah, dan negatif maka akan mengakibatkan pembangunan peradaban menjadi lemah, untuk itu peran guru merupakan hal yang penting untuk membangun peradaban yang kuat.

Menurut Dougherty dan Pritchard (1985) dalam (Bauer & Spencer, 2003), teori peran ini memberikan suatu kerangka konseptual dalam studi perilaku di dalam organisasi. Dougherty dan pritchard (1985) dalam (Bauer & Spencer, 2003) mengemukakan bahwa relevansi suatu peran itu akan bergantung pada penekanan peran tersebut oleh para penilai dan pengamat (biasanya spervisor dan kepala sekolah) terhadap produk atau outcome yang dihasilkan. Dalam hal ini, strategi dan struktur organisasi juga terbukti memengaruhi peran dan persepsi peran atau role perception. (Mossholder dan Haris, 1997) dalam �(Bauer & Spencer, 2003).

Selain itu menurut Muhammsad (2019: 61) peran seorang guru dalam mengajar juga sangat berpengaruh dalam perkembangn anak di sekolah, sejalan dengan pendapat Sanjaya (2006: 21) mengungkapkan bahwa mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan materi pembelajaran, akan tetapi satu proses untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Peran guru IPS dalam sumber belajar kaitannya dengan pembelajaran IPS diharapkan guru dapat menguasai materi pelajaran sehingga materi yang disampaikan dapat diterima baik oleh siswa. Pendapat tersebut dikuatkan oleh (Sapriya, 2009) yang menyatakan bahwa pendidikan karakter siswa tentu sangat berkaitan erat dengan keberadaan mata pelajaran IPS, dimana pendidikan IPS merupakan sebuah pendidikan yang kompulsif, yang mencangkup empat dimensi, yaitu: dimensi pengetahuan (knowledge), dimensi keterampilan (skills), dimensi nilai dan sikap (values and attitude), dan dimensi tindakan atau perilaku (action).

Menurut (Ratnawati, n.d.) berkaitan dengan peran guru IPS, guru IPS merupakan seseorang yang akan di tiru atau di jadikan cerminan bagi siswanya dalam bertingkah laku di sekolah, untuk itu guru dikatakan sebagai role model bagi siswa-siswanya. Role model adalah nama lain dari kata keteladanan, role model sendiri memiliki pengertian yaitu suatu tindakan yang mencerminkan suatu sikap yang baik sehingga dapat di jadikan sebagai role model acuan atau contoh (Mustafa, 2011). Atau role model dapat dikatakan sebagai �person who serves as an example, whose behavior is emulated by others� atau dalam bahasa Indonesia dapat di artikan sebagai seseorang yang memberikan teladan dan berperilaku yang bisa dicontoh oleh orang lain (NURRAHMAN, 2020).

Menurtut (Sultoni, Gunawan, & Sari, 2018) etika merupakan acuan yang sangat penting dalam mewujudkan role model pada guru, yang mana etika yang baik ini dapat dijadikan cerminan bagi siswa-siwanya. Menurut Sumaryono (2017:188) menjelaskan bahwa etika merupakan sebuah studi yang membahas mengenai kebenaran dari sebuah tindakan berdasarkan kodrat yang melekat pada diri manusia. Etika sendiri nantinya akan ditunjukkan melalui tingkah laku dari manusia itu sendiri dalam bertindak di kehidupan sehari-hari (Sumedi, 2018).

Berkaitan dengan hal tersebut Fenomena yang terjadi di SMPN 1 Talun Cirebon, dari hasil pengamatan observasi pada tanggal 25 agustus 2020 sampai dengan 10 november 2020 di temukan hasil bahwa siswa terutama siswa kelas VIII-i di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon yang mengalami penurunan etika dalam berkomunikasi dengan guru. Siswa beranggapan bahwa dirinya telah memiliki rasa akrab dengan gurunya, sehingga mereka dengan leluasanya menggunakan bahasa permainan dengan gurunya. Misalnya seorang siswa menyapa guru muda dan guru yang tidak pernah menegurnya dengan berteriak dari kejauhan tanpa memberikan salam hormat dari dekat, terdengar ucapan kasar pada saat bersama temanya sedangkan masih dalam lingkungan sekolah, ataupun dalam kegiatan tatap muka di kelas dengan memperlihatkan wajahnya yang kurang berkenan diberi tugas. Hal ini juga diperkuat dengan beberapa laporan dari beberapa guru di sekolah, yang mana akan semakin menunjukkan kurangnya etika berkomunikasi pda siswa SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon.

Berdasarkan hasil tersebut peneliti ingin mengangkat masalah ini sebagai bahan penelitian dengan menggunakan teknik yang berbeda, yaitu peneliti akan menggunakan teknik role model untuk meningkatkan etika komunikasi di SMPN 1 Talun Cirebon, dimana teknik ini guru lah yang akan berperan sebagai cerminan dari siswa, guru dituntut untuk selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar ketika berkomunikasi dengan siswa, sesama guru dan staf di sekolah, sehingga siswa dapat mengamati perilaku komunikasi yang baik dari seorang guru. Role model sendiri dapat di artikan sebagai keteladanan ataupun cerminan dalam diri seseorang yang harus di tiru perilaku baiknya. Role model dapat memberikan gambaran bagi siswa tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan baik yang diperagakan oleh gurunya dengan tujuan dapat membantu siswa untuk lebih sopan dalam berbicara kepada guru, terlebih kepada orang yang lebih tua dengan penataan bahasa yang baik.

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul �PERAN GURU IPS SEBAGAI ROLE MODEL DALAM MEMBENTUK ETIKA SISWA di SMPN 1 TALUN CIREBON�.

Rumusan dari penelitian ini yaitu bagimana etika berkomunikasi siswa kelas VIII-i di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon, bagaimana peran guru IPS sebagai role model dalam embentuk ertika siswa di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon, faktor apa saja yang mendukung dan mengambat guru IPS dalam membentuk etika berkomunikasi siswa kelas VIII-i di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon.

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui etika berkomunikasi siswa kelas VIII-i di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon, untuk mengetahui peran guru IPS sebagai role model dalam embentuk ertika siswa di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon, untuk mengetahui faktor apa saja yang mendukung dan mengambat guru IPS dalam membentuk etika berkomunikasi siswa kelas VIII-i di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon.

 

METHODS

Pada penelitian ini peneliti mengangkat judul �Peran Guru IPS Sebagai Role Model dalam Membentuk Etika Siswa di SMPN 1 Talun�. Yang di ambil berdasarkan hasil eksplorasi penelitian. Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini adalah jenis penelitian kualitatif, di mana dalam penelitian ini akan menggunakan pendekatan deskriptif, di mana akan dijabarkan hasil dari eksplorasi selama penelitian di SMPN 1 Talun Cirebon.

Peneliti melakukan penelitian di SMPN 1 Talun Cirebon yang berlokasikan di Jalan Nyi Arumsari, Kecomberan. Kecamatan Talun. Kabupaten Cirebon. Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini, dilaksanakan pada Selasa, 25 Agustus 2020 sampai dengan Sabtu, 10 November 2020, waktu ini meliputi kegiatan persiapan sampai penyusunan laporan penelitian.

Subjek dalam penelitian ini adalah seorang pendidik atau guru, dimana seorang pendidik yang akan memperagakan dirinya sebagai gambaran dari implementasi peran guru sebagai role model dalam membentuk etika siswa di sekolah, guru yang akan berperan penting untuk memberi gambaran baik,� terkait etika berkomunikasi. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah siswa di sekolah SMPN 1 Talun, dimana mereka dijadikan titik keberhasilan seorang guru dalam memainkan perannya.

Berikut teknik dan instrumen pengumpulan data yang digunakan :

a.       Observasi

Menurut (Nasution, 2015) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan, yang diperoleh dari hasil observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil maupun sangat jauh bisa di observasi dengan sangat jelas.

Dengan observasi di lapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial. Jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh. Peneliti juga dapat memperoleh pengalaman langsung sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep pandangan sebelumnya.

Dalam penggunaan metode observasi, peneliti datang ke lokasi penelitian yaitu SMPN 1 Talun Cirebon untuk mengamati segala hal yang berkaitan dengan fokus kajian tentang etika berkomunikasi siswa.

b.      Wawancara

Esterberg dalam (P D Sugiyono, 2017b) mendefinisikan �wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontribusikan makna dalam suatu topik tertentu�.

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu ditunjukkan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancara, dalam bentuk wawancara bebas terpimpin yaitu, dalam melaksanakan wawancara, peneliti membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan, yang selanjutnya pertanyaan tersebut akan diperdalam. Metode ini merupakan metode untuk menggali data yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung atau bertemu dengan responden atau sumber data dengan cara memberikan pertanyaan secara logis.

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam (2015: 231).

Dalam penggunaan metode wawancara ini, peneliti membawa instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan yang akan di ajukan kepada narasumber yang di tuju dan beberapa alat penunjang lainnya seperti telepon genggam yang berfungsi sebagai alat perekam dan buku catatan untuk mencatat beberapa jawaban dari narasumber.

c.       Dokumentasi

Teknik ini adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku pendapat, teori, dalil, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penyelidikan. Dalam penelitian kualitatif teknik ini berfungsi sebagai alat pengumpul data utama, karena membuktikan hipotesis dilakukan secara logis dan rasional melali pendapat, teori atau hukum-hukum yang diterima kebenarannya, baik yang menolak maupun yang mendukung hipotesa tersebut (Prof.Dr. Sugiyono, 2016).

Dokumentasi merupakan suatu cara atau teknik memperoleh data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, jurnal, notulen, agenda dan sebagainya. Adapun dokumen-dokumen yang dimaksud adalah berupa data-data yang diperlukan antara lain tentang latar belakang SMPN 1 Talun Cirebon yang meliputi Visi-misi, tujuan, struktur organisasi dan lain-lain.

Dalam hal ini peneliti akan mendatangi tempat observasi dan meminta izin untuk mengambil beberapa gambar dan arsip lainnya untuk dijadikan bukti fisik atas penelitian yang dilakukan peneliti.

d.      Tringulasi

Tringulasi di artikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan data dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber� data yang telah ada (Bachri, 2010). Tringulasi berfungsi untuk mengecek data dalam suatu penelitian, dimana peneliti tidak hanya menggunakan satu sumber data, satu metode pengumpulan data atau hanya menggunakan pemahaman pribadi peneliti saja tanpa melakukan pengecekan kembali agar dapat diterima kebenarannya (Sugiyono, 2017a).

Dalam hal ini peneliti akan memilah dan memilih beberapa informasi yang di dapat dari hasil observasi dan wawancara guna mensinkoronkan antara jawaban dari narasumber dengan apa yang akan diteliti oleh peneliti

Instrumen adalah alat dalam mengumpulkan data, tentunya alat yang digunakan dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif sangatlah berbeda. Menurut Licoln dan Guba �Instrumen pilihan dalam penyelidikan nuralistik adalah manusia, kita akan melihat bahwa bentuk-bentuk instrumen lain dapat di gunakan pada tahap-tahap penyelidikan selanjutnya, tetapi manusia adalah yang utama dan berkelanjutan. Tetapi jika manusia telah digunakan secara luas pada tahap awal penyelidikan, sehingga instrumen dapat dibangun yang didasarkan pada data bahwa instrumen manusia memiliki produk� adapun penelitian yang di lakukan peneliti bersifat kualitatif sehingga peneliti menjadikan manusia sebagai alat penelitian (Anufia & Alhamid, 2019).

Dalam hal ini yang dimaksud manusia sebagai Instrumen pengumpulan data adalah peneliti itu sendiri, yang mana penelitilah yang di jadikan sebagai alat pengumpulan data, namun hal itu dibantu pula dengan alat-alat pendukung seperti telepon genggam guna merekam suara dan pengambilan beberapa gambar di tempat observasi, buku catatan dan lain-lain.

 

RESULTS AND DISCUSSION

Atas beberapa temuan yang didapatkan, maka peneliti menegaskan bahwa pengaruh guru IPS dalam etika berkomunikasi siswa di SMPN 1 Talun Cirebon berdampak positif/baik tetapi belum optimal terhadap keseluruhan siswa di SMP N 1 Talun Cirebon. Terlihat dari cara berbicara siswa yang baik dan sopan saat melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas, menghormati guru, dan selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan sekolah.

Menurut (Mansyur, 2017) peran guru IPS dalam mewujudkan etika berkomunikasi siswa merupakan sebuah proses dalam interaksi kultural untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial dalam proses pencapaian pendidikan IPS. Pendidikan IPS merupakan bentuk wujud dalam mengimplementasikan nilai, sikap, dan perilaku sosial siswa dalam menjalankan dinamika kehidupan sesuai dengan norma dan aturan yang berlak di masyarakat. Pendidikan tanpa perspektif pendidikan sosial, akan hilang esensinya sebagai proses pendidikan yang sejati. Perlu memikirkan dan upaya untuk memposisikan esensi serta hakikat pendidikan secara tepat. Serta membina peserta didik menjadi warga Negara yang baik yang memiliki keterampilan, kepedulian sosial yang berguna bagi dirinya sendiri maupun masyarakat dan Negara. Yang didukung oleh pelaksanaan program-program dalam upaya mewujudkan perilaku sosial siswa di sekolah. Melalui pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan sekolah dapat membantu siswa menjadi terbiasa melakukannya dan mendorong kemudahan siswa dalam berinteraksi dan bersosialisasi di dalam kehidupan masyarakat sosial.

Berdasarkan data-data penelitian yang telah dilakukan, maka jelas bahwa persoalan dalam upaya mewujudkan etika berkomunikasi siswa sampai saat ini sangat penting dibicarakan, semenjak terus meningkatnya berbagai perkembangan bahasa yang kurang baik di lingkungan masyarakat, bukan hanya dalam lembaga-lembaga non formal tetapi lembaga formal pun tak luput dari hal-hal demikian. Oleh karena itu baik dari sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar mendidik anak harus selaras guna anak dapat mewujudkan etika berkomunikasi siswa yang baik. Oleh karena itu hal ini juga terjadi akibat adanya proses stimulan terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut teori �S-O-S� atau Stimulus-Organisme-Respon�. Dengan demikian, adanya stimulus yang baik dari orang tua, sekolah dan lingkungan sosial maka peserta didik akan menerima rangsangan respon yang diberikan oleh komponen tersebut.

 

CONCLUSIO

Berdasarkan hasil analisis penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.       Etika berkomunikasi siswa kelas VIII-i di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon dapat dikatakan sopan� ketika sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar dikelas, dilihat dari segi penyampaian cara berkomuniksi dengan guru dan teman sebaya namun belum dikatakan secara optimal yang mana hal ini terlihat dari gaya bicara dan bahasa yang digunakan ketika di luar ruangan ataupun di luar kegiatan belajar mengajar, seperti menggunakan bahasa daerah yang diselipkan bahasa-bahasa pergaulan yang kurang sopan hal ini terjadi karena beberapa anak seringkali terlepas dari pantauan guru di sekolah.

2.       Peran guru IPS sebagai role model dalam membentuk etika berkomunikasi siswa kelas VIII-i SMPN 1 Taun Kabupaten Cirebon adalah guru sebagai suri teladan (public figure), guru sebagai pendidik dan pembimbing, guru sebagai pemberi pesan moral dan motivasi, guru sebagai fasilitator.

Faktor yang mendukung dan menghambat guru IPS dalam membentuk etika siswa kelas VIII-i di SMPN 1 Talun Kabupaten Cirebon dapat kita bedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal.� pertama, faktor pendorong dari segi internal yaitu: disiplin bahasa di sekolah, faktor dorongan dari guru, menjadikan siswa sebagai sahabat, faktor biologis (watak siswa). Adapun faktor pendorong dari segi eksternal yaitu : faktor lingkungan dan faktor keluarga. Kemudian faktor penghambat dari segi internal yaitu lepas pengawasan dan pengaruh teman sebaya. Kemudian faktor penghambat dari segi eksternal yaitu letak geografis, membaurnya pertemanan, kurangnya kerja sama antara sekolah dan orang tua, rendahnya pengetahuan orang tua dan teman sepermainan.

 

REFERENCES

 

Anufia, Budur, & Alhamid, Thalha. (2019). Instrumen Pengumpulan Data.

Bachri, Bachtiar S. (2010). Meyakinkan validitas data melalui triangulasi pada penelitian kualitatif. Jurnal Teknologi Pendidikan, 10(1), 46�62.

Bauer, Jeffrey C., & Spencer, J. (2003). Role ambiguity and role clarity: A comparison of attitudes in Germany and the United States. Retrieved July, 3, 2008.

Kirom, Askhabul. (2017). Peran guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran berbasis multikultural. Jurnal Al-Murabbi, 3(1), 69�80.

Mansyur, Umar. (2017). Peranan Etika Tutur Bahasa Indonesia dalam Pembelajaran di Sekolah. Tamaddun, 16(2), 69�73.

Mustafa, Hasan. (2011). Perilaku manusia dalam perspektif psikologi sosial. Jurnal Administrasi Bisnis, 7(2).

Nasution, Khoiruddin. (2015). Peran Kursus Nikah Membangun Keluarga Sejahtera. AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah, 15(2).

R. Hikmat Danaatmaja. Jakarta: AlHu�. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) RADEN FATAH PALEMBANG.

Oktaviyanti, Itsna, Sutarto, Joko, & Atmaja, Hamdan Tri. (2016). Implementasi nilai-nilai sosial dalam membentuk perilaku sosial siswa sd. Journal of Primary Education, 5(2), 113�119.

Ratnawati, Septi Gumiandari. (n.d.). PROFIL GURU PROFESIONAL ABAD 21 DALAM PERSPEKTIF MAHASISWA IAIN SYEKH NURJATI CIREBON.

Sapriya, S. (2009). Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Sugiyono. (2017a). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung.

Sugiyono, P D. (2017b). Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi, dan R&D. Penerbit CV. Alfabeta: Bandung.

Sugiyono, Prof.Dr. metode penelitian kuantitatif, kualitatif,dan R&D. , Alfabeta, cv. (2016).

Sultoni, Sultoni, Gunawan, Imam, & Sari, Dika Novita. (2018). Pengaruh Etika Profesional Terhadap Pembentukan Karakter Mahasiswa. JAMP: Jurnal Administrasi Dan Manajemen Pendidikan, 1(3), 279�283.

Sumedi, Sumedi. (2018). Meningkatkan Etika Berbicara Dengan Teman Sebaya Melalui Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Modelling pada Siswa SMP. Jurnal Prakarsa Paedagogia, 1(1).

 

 

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png� 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/).